Jumat, 02 Desember 2016

Kenali perilaku kacer saat berkembang biak di alam liar dan penangkaran


Sebenarnya sudah banyak kicaumania yang sukses menangkar burung kacer, meski jumlahnya kalah jauh daripada penangkar murai batu. Hal ini terutama akibat harga anakan / trotolan kacer jauh lebih murah daripada murai batu, padahal tingkat kesulitan beternak kacer dan murai batu relatif sama.

Meski demikian, omkicau.com akan terus mendorong kemunculan peternak-peternak baru, untuk menekan angka perburuan terhadap burung kacer di alam liar. Bagi calon penangkar maupun penangkar pemula, ada baiknya Anda mengenali perilaku kacer saat berkembang biak di alam liar dan penangkaran.

Kacer / oriental magpie-robin (Copsychus saularis) sampai saat ini masih menjadi salah satu jenis burung kicauan yang digemari para kicaumania di Indonesia. Bahkan kelas kacer masih menjadi primadona dalam berbagai lomba di Sumatera dan Kalimantan.

Sebagaimana murai batu, kacer juga termasuk burung teritorial, petarung (fighter), dan sama-sama memiliki sifat / karakter yang sangat agresif. Hal ini bisa dimaklumi, mengingat kedua spesies ini memiliki hubungan kekerabatan yang sangat dekat, karena sama-sama berada dalam genus / marga Copsychus.

Lantaran sifatnya yang sangat agresif, tak sedikit kicaumania yang mengaku cukup kesulitan ketika mencoba untuk menangkar kacer. Untuk membantu Anda, khususnya pemula yang ingin mencoba berternak burung kacer, berikut ini beberapa perilaku burung kacer pada masa penjodohan dan berkembangbiak, baik di alam liar maupun di dalam kandang penangkaran.

Di alam liar, kacer memiliki musim berkembangbiak pada bulan-bulan tertentu, tergantung wilayah persebarannya. Ada yang musim berbiaknya dimulai sejak Januari hingga Juni, tetapi ada juga yang berlangsung pada kurun waktu berbeda, misalnya Maret hingga Agustus.

Pada waktu-waktu tersebut, suasana hutan yang menjadi habitatnya pun menjadi lebih ramai oleh suara kicauan kacer jantan yang menarik perhatian burung betina. Beberapa hari kemudian, burung betina akan ganti memanggil-manggil kacer jantan.

Namun, ketika dikembangbiakkan di kandang penangkaran, burung kacer tidak akan mengalami kondisi breeding seperti di alam liar yang hanya berlangsung pada kurun waktu tertentu. Jika sudah berjodoh, maka seekor kacer jantan bisa mengawini betinanya setiap hari, sampai kacer betina bertelur dan mengerami anaknya.

Ketika anakan disapih, atau dipisahkan dari induknya, maka sekitar 1-2 minggu berikutnya, pasangan induk kacer ini sudah mulai kawin dan berproduksi kembali. Jadi, dalam kandang penangkaran, burung kacer tidak mengalami musim berkembangbiak seperti di alam liar.

Yang penting, para penangkar dan / atau perawatnya harus rutin memberikan pakan berkualitas, terutama extra fooding (EF) seperti jangkrik, kroto, ulat hongkong, cacing, dan sebagainya.

Selain itu, untuk menjaga kondisi agar kacer jantan dan betina selalu dalam kondisi on-fire, para peternak biasanya memberikan suplemen khusus untuk burung indukan seperti BirdMature, TestoBird, dan EstroBird.

Proses penjodohan di alam liar dan kandang penangkaran

Di alam liar, musim kawin pada kacer ditandai dengan aktivitas burung jantan yang umumnya sudah berada dalam kondisi breeding. Kacer jantan akan menjadi sangat rajin berkicau, terutama pada waktu fajar hingga matahari mulai terbit.

Dia akan terus berkicau sampai menemukan burung betina yang mau menerimanya. Artinya, kacer jantan berkicau dalam rangka menarik perhatian burung betina. Jika tertarik, maka kacer betina akan mendekatinya. Kacer betina kemudian melihat gaya si jantan saat berkicau. Kalau makin tertarik, maka dia akan terbang di sisi kacer jantan.

Pada saat itulah kacer betina memegang peranan cukup besar dalam memilih calon pasangannya. Ya, sebagian besar kacer betina akan memilih pejantan yang mempunyai lagu-lagu yang kompleks atau bervariasi. Proses perkawinan pun akan terjadi setelah kacer jantan berhenti mengeluarkan suara kicauannya yang panjang.

Gaya buka ekor yang dilakukan kacer jantan sambil berkicau menandakan bahwa dia telah siap mengawini burung betina. Untuk lebih jelasnya, silakan simak video perkawinan kacer berikut ini:

Ketika manusia melakukan campur tangan dalam proses penjodohan di kandang penangkaran, tentu prosesnya agak berbeda. Dalam hal ini, kita harus memperkenalkan dulu kacer jantan dan betina, atau biasa disebut penjodohan.

Proses penjodohan dilakukan dengan mendekatkan sangkar kacer jantan dan sangkar kacer betina. Pastikan kedua calon induk ini sudah berumur dewasa, di mana bulu–bulu trotolnya sudah berganti menjadi bulu dewasa. Lebih baik lagi jika kacer betina sudah berumur 1 tahun, dan kacer betina sudah berumur 1,5 tahun.

Awalnya kacer jantan akan bersifat sangat agresif dan selalu berkicau terlebih dulu guna menunjukkan dominasinya. Namun setelah kedua sangkar didempetkan selama beberapa hari, kacer betina bakal memanggil-manggil pejantan, sehingga keduanya akan berkicau saling bersahutan.

Selain itu, tanda-tanda berjodoh juga bisa diamati dari posisi bertenggernya. Keduanya akan selalu nangkring dalam posisi berdekatan, meski berada dalam sangkar terpisah. Hal itu bisa dicermati baik pada siang maupun malam hari, termasuk saat tidur.

Setelah mulai bersahut-sahutan, Anda bisa memasukkan kacer betina ke kandang breeding yang sudah dilengkapi dengan kotak sarang dan bahan-bahan untuk membuat sarangnya. Kacer jantan juga dimasukkan ke kandang yang sama, tetapi tubuhnya masih terkungkung dalam sangkar, sehingga gerakannya sangat terbatas.

Pada hari pertama di kandang ternak, biasanya kacer betina akan sibuk mengumpulkan bahan-bahan sarang, serta membawanya dan menatanya di kotak sarang. Kalau kacer betina sudah unjal seperti itu, barulah kacer jantan bisa dikeluarkan dari sangkarnya.

Kotak sarang untuk beternak kacer berbentuk mirip gelodok, namun dengan pintu masuk yang lebih lebar. Bisa juga memakai kotak sarang seperti yang digunakan dalam beternak murai batu. Bahan sarang terdiri atas kapas, serabut kelapa, sobekan kertas koran, rafia, dan sebagainya. Nantinya kacer betina akan menyusun sendiri bahan sarang itu di dalam kotak sarang, tanpa bantuan burung jantan.

Di alam liar, kacer jantanlah yang bertugas mencari lokasi yang nantinya digunakan burung betina untuk bersarang. Nah, pada kandang ternak, lokasi sarang sebaiknya berada di tempat yang mudah terjangkau oleh kedua induk, dan ditempatkan pada posisi yang lebih tinggi.

Seminggu setelah kawin, kacer betina akan bertelur sebanyak 3-5 butir. Telurnya berwarna hijau pucat bercampur cokelat-kemerahan, serta bercoret ungu-keabuan. Telur ini dikeluarkan setiap hari, sampai akhirnya induk betina mulai mengeram.

Dalam hal ini, tugas pengeraman hanya dilakukan oleh kacer betina saja. Burung jantan berada di sekitar sarangnya. Di alam liar, kacer jantan akan selalu berjaga-jaga di luar sangkar untuk mencegah kemunculan predator atau kacer lain yang ingin merebut sarangnya.

Induk kacer betina akan mengerami telurnya selama 12 – 14 hari. Saat itu burung betina mengalami kondisi yang disebut brood patch atau rontok bulu / kebotakan pada area sekitar dada dan perutnya.

Telur-telur ini akan menetas pada hari yang sama, tapi ada juga beberapa kasus di mana semua telur baru menetas dalam waktu 40 jam. Piyikan kacer berwarna oranye kecokelatan, dengan mata masih menutup, dan tanpa bulu. Dia keluar dari balik cangkang telurnya yang telah pecah. Setelah itu, induk betina segera membersihkan sarang dengan membuang sisa-sisa cangkang itu jauh dari sarangnya.

Saat mengasuh anaknya, kebutuhan pakan untuk induk kacer meningkat dua kali lipat. Karena itu, untuk menjaga kondisi induk dan perkembangan piyikan, maka pakan bergizi harus selalu tersedia dalam jumlah tak terbatas (ad libitum), atau sekenyangnya burung induk.

Selama beberapa hari, piyikan kacer berada dalam masa tenang, karena masih menyimpan cadangan makanan yang diperolehnya dari kuning telur (yolk) saat masih belum menetas. Burung induk pun hanya memberi makan kepada anak-anaknya yang membuka paruh lebar-lebar saja.

Setelah berumur 3-4 hari, barulah suara piyikan mulai terdengar ramai. Saat itu, mereka berlomba-lomba mencari perhatian induknya lantaran merasa lapar. Dibandingkan burung jantan, kacer betina terlihat sangat sibuk dalam mengurusi dan merawat anak-anaknya.

Di alam liar, anakan kacer akan tetap bersama induknya, meski dia sudah bisa belajar terbang. Pada umur 3 bulan, ketika kacer remaja sudah bisa terbang jauh, barulah mereka memisahkan diri dari kedua induknya.

Pada penangkaran kacer, kita bisa meniru persis apa yang terjadi di alam liar, di mana anakan kacer tetap dirawat induknya, terutama sampai bisa makan sendiri (tanpa diloloh).

Namun untuk meningkatkan produktivitas indukan, atau untuk mencegah pembantaian induk terhadap anaknya, biasanya para breeder melakukan pemanenan dini, ketika anakan berumur 7 hari. Ada juga yang memanen anakan saat berumur dua minggu (13 – 16 hari), saat anakan sudah mulai belajar terbang atau keluar dari sarangnya.

Sekitar 1-2 minggu setelah anakan dipanen, pasangan induk akan kawin dan kembali berproduksi. Perlu diketahui, pasangan induk kacer akan menggunakan sarangnya yang lama untuk meletakkan telur-telurnya.

Semoga bermanfaat.

Sumber


EmoticonEmoticon